Slider

Recent Post

Kabar Kampus

Agenda Kita

Math Education

Oase

Gallery

Tausiyah Ramadhan: Kasih Sayang

"Allah swt melaknat orang yang menyiksa dan mengurung hewan"- Hadits Nabi saw.

Dikisahkan,seorang ibu yang tengah duduk memangku kedua anaknya yang masih balita. Seseorang kebetulan lewat merasa iba dan memberikan tiga butir kurma padanya. Lalu sang ibu memberikan satu kurma untuk anaknya yang besar, kemudian satu kurma lagi diberikan kepada anak yang kecil. Lalu kurma ketiga akan dimakan oleh si ibu. Namun tiba-tiba putranya yang besar meminta kurma itu, karena kurmanya tadi sudah habis. Si ibupun tidak jadi memakannya dan menyerahkan kurma itu kepada si buah hati.

Rasulullah saw mengetahui kejadian itu, beliau ber kata: "Si Ibu itu masuk syurga, karena memberikan kasih sayang kepada anaknya".

Kasih sayang merupakan sifat dasar manusia, bukankah manusia terlahir diawali dari hubungan kasih sayang antara dua makhluk laki-laki dan perempuan. Namun, bisa saja satu lingkungan buruk kemudian mengubah perilaku seseorang, sehingga ia menjadi kasar, bahkan besifat kejam kepada siapapun juga.

Suatu ketika Rasulullah saw didatangi oleh cucu-cucu beliau Hasan dan Husain yang habis bermain di pasir. Kebetulan seorang Arab Badui bernama Aqra bin Habis, menyaksikan peristiwa itu dan berkomentar, "Saya punya cucu sepuluh orang, tapi saya tidak pernah menciumi mereka".

Mendengar ucapan orang itu Rasulullah saw marah dan berkata:"Aku tidak sanggup menumbuhkan kasih sayang di hatimu, bagaimana jika Allah swt mencabutnya. Siapa yang tidak mengasihi yang di bumi, tidak akan dikasihi oleh yang di langit".

Rasulullah saw dikenal bersifat penyayang kepada makhluk Allah swt, apalagi terhadap keluarga sendiri.

Simaklah bagaimana beliau memanggil istirinya Aisyah dengan sebutan humaira (yang kemerahan), panggilan mesra yang menyenangkan hati sang isteri. Bahkan Rasulullah saw pernah sujud lama sekali, sehingga sahabat mengira sedang turun wahyu. Namun rupanya sang cucu menaiki punggungnya, dan beliau tidak ingin menganggu keinginan cucu tercinta tersebut.

Rasulullah saw pernah menangis saat putranya Ibrahim wafat, sehingga Abdurrahman bin Auf bertanya, mengapa beliau saw menangis. "Ini adalah tangisan kasih sayang wahai Ibn Auf"

Rasul melanjutkan pembicaraannya: "Sungguh mata ini berlinang, hati ini sedih, namun kami tidak mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami sangat sedih berpisah dengan engkau wahai Ibrāhīm.”

Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk berkasih sayang sesama orang beriman. Kita rasakan bagaimana perihnya lapar saat menjelang berbuka, namun ingatlah bahwa kaum fakir miskin hampir setiap hari telah merasakannya.Empati ini tentu akan mengetuk sanubari kita untuk saling berbagi.

Hiasilah rumahmu dengan melati
Hidangkan di meja si lapis legit
Kasihilah makhluk yang ada di bumi
Engkauakan dikasihi Yang di Langit


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

Pelaksanaan Obrolan Ramadhan Dan Buka Puasa Bersama HIMATIKA


 Oleh : Resti Kardina

Marhaban Ya Ramadhan..

Alhamdulillaahrirobbil ‘aalamin. Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (HIMATIKA) Universitas Galuh pada hari Selasa 23 Juli 2013 telah menyelenggarakan agenda Ramadhan 1434 H. Kegiatan ini terdiri dari kajian Ramadhan yang kami sebut dengan “Obrolan Ramadhan” kemudian dilanjutkan dengan buka bersama. Kegiatan ini diselenggarakan dengan mengundang  seluruh mahasiswa Pendidikan Matematika, Dosen Matematika, dan beberapa mahasiswa undangan. Dalam Obrolan Ramadhan, para tamu undangan disuguhi dengan ilmu keagamaan yang disampaikan oleh Ustadz Asep Juju. Dengan adanya obrolan ramadhan ini diharapkan kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dalam segi akidah dan akhlaknya. 

Berikut ini ringkasan materinya.
Keutamaan bulan Ramadhan. Mengapa Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dibandingkan dengan bulan-bulan lain dalam satu tahun hijriah? Salah satunya karena Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Apa itu berkah? Berkah adalah Ziyadatul Khair (bertambahnya kebaikan). Kita lihat saja, pada bulan ramadhan orang-orang berduyun-duyun pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah, berbeda ketika di bulan lain hanya sedikit orang yang bersengaja shalat berjamaah di masjid, bahkan bisa dihitung dengan jari. Shalat berjamaah menjadi digemari. Kemudian shalat menjadi terasa ringan, dibuktikan dengan banyaknya raka’at yang dikerjakan dalam qiyamul lail. Bulan Ramadhan menjadikan muslim sehat jasmani maupun rohani. Jasmani, tentunya dengan berpuasa. Rohani, dengan berpuasa pula salah satunya dapat meminimalisir penyakit rohani. Kita ambil saja salah satu contoh penyakit rohani. “Susah liat orang lain senang, dan senang liat orang lain susah”. Tidak menutup kemungkinan hal  ini dimiliki oleh orang-orang yang memiliki penyakit rohani. Jika penyakit ini semakin kronis, bisa membuat hati menjadi busuk. (Naudzubillaah..). Kawan, oleh karena itu sebaiknya pada bulan penuh berkah ini mari perbaiki hati kita agar terhindar dari penyakit-penyakit yang dapat merusak pahala ibadah. Kemudian dengan adanya bulan ramadhan ini, dapat melatih agar orientasi kita ukhrawi (akhirat), bukan duniawi. Puasa itu perisai, harus menjadi tameng ketika diperangi bertubi-tubi godaan.

Kawan, proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu tidak serta merta terjadi dengan singkat. Karena  memang harus penuh pengorbanan. Baik itu waktu, tenaga, hati, fikiran, dan lainnya. Contohnya ketika usia kita masih dini, biasanya kita berpuasa itu tidak sampai waktu maghrib. Tapi hanya setengah hari, sampai waktu dzhur. Tapi seiring bertambahnya usia, berpuasa itu akan semakin terlatih dengan adanya pengalaman. Yang pada awalnya hanya sampai dzhur, kemudian meningkat berpuasa hingga maghrib. Proses latihan tersebut. seharusnya dapat kita terapkan pula pada kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, kita sebagai mahasiswa maatematika alangkah baiknya terus berlatih memahami teori-teori atau bahkan mengerjakan soal-soal matematika. Kita awali dengan mengerjakan satu sampai dua contoh soal, kemudian selanjutnya kita tingkatkan kualitas dan kuantitas soal-soal yang akan kita pecahkan. Dengan semakin seringnya kita berlatih, maka kemampuan kita akan semakin terasah dengan baik. Sehingga pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu dapat kita capai. Semoga..

Begitulah hikmah yang dapat diambil dari obrolan ramadhan selasa kemarin. Semoga dapat menjadi pelajaran yang akan menjalar sampai ke hati.

Lalu adzan maghrib berkumandang, disambut dengan seteguk air dan tiga biji kurma. Alhamdulillaah.. Kebahagiaan utama yang dirasakan orang berpuasa adalah ketika berbuka.

Ramadhan belum berakhir, silahkan sebanyak-banyaknya berbuat kebaikan untuk tabungan di akhirat nanti.
Akhir kata, semoga acara-acara HIMATIKA kemudian lebih mengesankan lagi dan memberikan manfaat kepada masyarakat Pendidikan Matematika.




Obrolan Ramadhan & Buka Puasa Bersama HIMATIKA

Buka Puasa Bersama HIMATIKA

Gramatika Ramadhan



Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Ada yang sangat menarik dari setiap akhir ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Ayat 183-187 surah Albaqarah diakhiri dengan fi'il Mudhari' (present dan future tense). Misalnya, ayat 183 yang diakhiri dengan la'allakum tattaqun, lalu in kuntum ta'lamun (184), la'allakum tasykurun (185), la'allahum yarsyudun (186), danla'allahum yattaqun (187).

Menurut gramatika bahasa Arab, akhir ayat-ayat tersebut mengandung arti bahwa puasa itu harus berwawasan masa kini dan mendatang. Ketakwaan itu mengawali, menyertai, mengakhiri, sekaligus menindaklanjuti Ramadhan.

Kecuali ayat 184, ayat-ayat lainnya dirangkai dengan kata la'alla yang menunjukkan arti harapan (tarajji). Artinya, Ramadhan harus menjadi bulan penuh harapan menuju perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan bermakna.

Pertama, harapan menjadi orang bertakwa (la'allakum tattaqun). Dalam menafsirkan ayat ini, sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa 'mudah-mudahan kalian semua dapat menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan.' Karena orang yang berpuasa itu mestinya antimaksiat. Makan dan minum saja tidak mau (di siang hari), apalagi maksiat?

Kedua, harapan menjadi orang yang berilmu (in kuntum ta'lamun). Ilmu harus menjadi dasar bagi kita dalam menggali makna dan rahasia puasa. Sebaliknya, puasa hendaknya mengantarkan kita untuk selalu menggali dan mengembangkan ilmu. Ilmu dan takwa menjadi 'identitas' Muslim.

Ketiga, harapan menjadi orang yang pandai bersyukur (la'allakum tasykurun). Bersyukur merupakan nilai positif dan konstruktif bagi orang yang berpuasa, karena ketika merasa letih, lapar, haus, dan dahaga, lalu pada saat berbuka dapat menikmati apa yang menjadi hak mulut dan perutnya, rasa gembira itu terekspresikan luar biasa indah. "Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya di akhirat kelak." (HR Thabrani).

Keempat, harapan menjadi orang yang berada dalam kebenaran (la'allahum yarsyudun). Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan prasyarat yang mengantarkan seseorang itu memperoleh jalan kebenaran dalam menjalani kehidupan ini.

Harapan itu harus dipenuhi dengan ketaatan dan kesungguhan dalam berdoa, dengan sungguh-sungguh meminta kepada Allah dan bukan pada yang lain.

Kelima, harapan menjadi orang yang bertakwa (la'allahum yattaqun).Menjadi orang yang bertakwa harus tahu diri, tahu batas, dan tahu yang pantas. Tahu diri artinya bisa mengendalikan hawa nafsu, tahu batas berarti mengetahui larangan-larangan Allah, dan tahu yang pantas artinya berusaha untuk menampilkan performa diri yang terbaik sesuai dengan batas kemampuannya.

Dengan memahami gramatika Ramadhan ini, kita perlu memaksimalkan harapan-harapan baik kita dengan membuat perencanaan dan target yang jelas sehingga Ramadhan kali ini, membuahkan transformasi dan spiritualisasi diri ke arah peningkatan iman dan takwa yang bermakna. Semoga.

*ROL

RAHASIA PUASA

submitted by  : Drs. H. Ahmad Yani
sumber  : -
Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan
yang mulia merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita.
Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak
keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia
maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk
membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting
dari ibadah Ramadhan.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam
mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk
selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

1. Menguatkan Jiwa

Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh
hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi
keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil
dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam
Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha
untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat
kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat
duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami
kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah
dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan
dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu
yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah
memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya
yang artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan
ilmu-Nya (QS 45:23).

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan
hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan
demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti
layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu
mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala doaanya
dikabulkan oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Ada tiga golongan orang yang
tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka,
pemimpin yang adil dan doa orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

2. Mendidik Kemauan

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang
sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan
kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan
membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik,
meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu,
Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran.

Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang
muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat
seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan
atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga
akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun
penderitaan yang dialami sangat sulit.

3. Menyehatkan Badan

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan
benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan
jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi
juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia
yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka
berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus
diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk
sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam,
isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk
makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4. Mengenal Nilai Kenikmatan

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang
Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak
pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena
menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena
menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia
mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya
sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang
yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah
dari apa yang kita peroleh.

Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan
dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi
juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat
yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja
kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita
alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat
dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.
Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk
menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita
selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak
mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah
memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat
itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi
rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala
Tuhanmu memaklumkan:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).

5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita
bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab
pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir
hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah
kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan
dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya
yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi,
seperti penderitaan saudara- saudara kita di Ambon atau Maluku,
Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di
berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak,
dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum
Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar
dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi
persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak
hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga
bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang
kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta,
kikir dan sebagainya.

Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan
mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).

SAMBUT DENGAN GEMBIRA

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi
kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut
kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira
sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan
ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah
Ramadhan itu berat.

Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita
tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan
Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik)
diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan
taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan
bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang
hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita
tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami
krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan
taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri- sendiri yang
akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru
menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.

Oleh karena itu, tepat apabila tema Ramadhan tahun ini adalah:
JALIN UKHUWAH, SATUKAN LANGKAH. Semoga hikmah
Ramadhan tahun ini dapat memperbaiki diri, keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara kearah yang diridhai Allah Swt. Selamat
Menunaikan Ibadah Ramadhan 1434 H.