Slider

Recent Post

Kabar Kampus

Agenda Kita

Math Education

Oase

Gallery

"si dia part 1"

SMS SUDAH DIBACA YA, AL-QUR'ANNYA SUDAH?

Banyak status, sms, pm bbm, tweet, koran, berita, buku, pelajaran dan sebagainya yang dibaca, tapi bila diperkenanankan untuk bertanya,
"sudahkah kalimat-kalimat teduh dari Al-Malik kita baca dan kita dengar?"
Atau jangan-jangan Al-Qur'an si obat "hati yang sakit" ini malah terlupakan?
Nah loh, padahal, kalimat-kalimat yang diturunkan dari langit itu walaupun maknanya tidak kita ketahui sudah punya pengaruh yang baik lho untuk otak kita. (wah, apalagi bila disertai mengerti maknanya kan yah..)
Penelitian membuktikan bahwa Al-Qur'an ternyata mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap saraf manusia.
Wah..
Percaya percaya?
Nih ada penjelasannya,
karena, sebagaimana kita tahu bahwa tiap suara atau sumber-sumber bunyi mempunyai frekuensi dan panjang gelombang tertentu. Betul?
#buka2 lg buku fisika nya yaa

nah ternyata, bacaan Al-Qur'an yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai tajwid mempunyai frekuensi dan panjang gelombang yang mampu memengaruhi otak secara positif dan penurunan tekanan pada saraf secara SPONTAN . secara spontan lho ga pake L deh pokonya,
wahh..kereeeen.. nah hal ini yg menjadi salah satu faktor tiap kita mendengarkan bacaan al-quran yg dibaca dng tartil yg bagus terasa tentram di hati, atau kalau kita lg andilau alias antara dilema dan galau lalu membaca al-quran dgn sungguh2 dng berurai air mata ku sabab galau tea , suka terasa kan bagaimana damainya, plooooong rasanya, pasti rekan-rekan sering merasakan dahsyatnya al-quran itu sendiri kan?
yakin deh ^^

oya, udah pada dapet info kan kalo ternyata cuma al-quran yang poin-poin ganjarannya dihitung per karaker alias per huruf. wahh.. ayoooo kumpulkan poin sebanyak-banyakknyaa..

Jika selama ini kita sudah terbuai dengan asumsi musik Mozart dapat meningkatkan inteligensia apabila didengar berbarengan dengan proses pembelajaran, karena melatih keseimbangan otak kanan dan otak kiri, nah, musik Mozart yang katanya canggih itu rasanya bisa kita turunkan pasarannya dengan mengatakan pada semua
"ayat-ayat cinta dalam Al-Qur'an ku jauh lebih dahsyat doong"

bisa dipraktekan juga nih bagi rekan-rekan yang suka mendengarkan musik kalo lagi ngerjain soal matematik coba deh digeser dengan mendengarkan murotal al-qur'an dari syaikh Misyari Rasyid misalnya, beuhhhh terang deh jadinya, otak kiri yang bertugas mengerjakan soal matematika dibuat enjoy karena otak kanan bertugas mendengarkan musik lalu menurunkan ketegangan yang ditimbulkan soal matematika itu deh, dahsyat kan..
Al-Qur'anku, Al-Qur'anmu, Al-Qur'an kita, hadiah istimewa dari Allah Yang Maha Penyayang ini berisi kalimat-kalimat suci yang ga tanggung-tanggung diturunkannya dari Tujuh Lapis Langit bukan dari 7 tangga nada loh.
jadi masih males nih baca Al-Qur'an setelah bonus plus plus dari Allah nya kita ketahui?

tanya hati ya!
karena sesungguhnya setiap hati itu menyukai cahaya.
^^

#Divisi.Syiar Depag Himatika Unigal
jum'at, 20 September 2013

Indahnya Bertegur Sapa


berbagimanfaat.com, 
Dari gambar ini saya belajar sesuatu.. yaitu, 

Bahwa dalam setiap halnya islam mengajarkan keindahan. Doa dalam setiap kegiatan, sebagai contoh:
Bila bertemu seseorang berkata "hello" atau "hai" tidak salah, kita tau itu kata sapa. Tapi budaya islam menawarkan suatu hal yang lebih baik yakni katakan Assalammua'laikum warrohmatullahi wabarokatuh yang artinya "Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu." 
Menyapa dengan Assalammualaikum menunjukan ada doa yang kita sampaikan untuk orang yang kita temui, dan doa itu bila berasal dari hati dan tidak sekedar kebiasaan menunjukan adanya kasih sayang di sana.. melihat dua orang saling bersapa dengan salam islam menunjukan bahwa kedua orang itu sedang mendoakan satu sama lain agar masing-masing mendapatkan kedamaian, rahmat serta berkah dari Allah. bukankah kebiasaan ini jauh lebih indah dibandingkan sekedar kata sapa "Hai?" bukankah lebih baik bagi kita mendapatkan doa dari seseorang daripada sekedar mendapat kata sapa? dan bukankah malaikat selalu mendoakan kembali seseorang yang mendoakan orang lain? jadi kenapa tidak kita lakukan kebiasaan berdoa ini?


Contoh lainnya adalah Terima kasih. Terima kasih kita ketahui merupakan kata2 yang menunjukan aprresiasi kita terhadap suatu pemberian, sebuah appresiasi yang sopan dan manis. Namun, islam kembali menawarkan suatu hal yang lebih indah yaitu  "Jazakumullah khairan katsiran" yang artinya Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang banyak 
Menurut saya kenapa ini lebih indah, karena islam tidak hanya menunjukan sebuah apresiasi berupa kata terima kasih, tapi langsung memberikan balasan kepada pemberi berupa doa kita kepada Allah yakni semoga orang tersebut diberikan kebaikan yang banyak oleh Allah. Bukankah doa yang dipanjatkan seseorang agar bertambah kebaikan pada diri kita jauh lebih berharga dibandingkan balasan terima kasih? bukankah kita selalu bahagia melihat orang lain mendoakan kebaikan untuk kita? terima kasih hanya akan menjadi terima kasih, tapi doa yang dia panjatkan kepada Allah dapat terkabul sehingga kebaikan kita menjadi jauh lebih bertambah, tidakkah itu lebih baik?

Begitu pun pada goodbye, dadah, sampai jumpa, selamat tinggal, islam menawarkan pengganti yang lebih baik yakni fi amanillah apa tuh artinya? artinya (semoga engkau) dalam lindungan Allah. Nah ini juga menunjukan bahwa kita sebagai muslim ketika melihat saudara kita pergi,  tidak cuma berkata dadah dan sampai jumpa tapi juga mendoakan agar dalam perjalannya ia senantiasa dilindungi Allah. Dilindungi dari apa? dilindungi dari musibah, dari sakit, atau dari hal lain yang tidak baik. Lihat betapa islam menunjukan budaya saling mencintai sesama muslim. Dan berdoa bagi keselamatan orang yang kita sayang tentu lebih tinggi nilainya dibandingkan sekedar kata "dadah.. "

Selain itu ada kata InsyaAllah yang berarti kita selalu ingat bahwa manusia boleh berkeinginan tapi Alah yang terkahir akan memutuskan apakah kita sanggup menggenapi undangan atau permintaan tersebut atau tidak.

Yang terkahir adalah kata Alhamdulillah. Dikatakan bahwa sebaiknya setiap kali kita ingin mengatakan kabar kita baik, iringi dengan kata Alhamdulillah sebelum atau sesudahnya karena in menunjukan bahwa saat itu kita sadar bahwa kondisi sehat dan baik yang ada saat ini adalah karena Allah maka wujudkan syukur kita dengan ucapkan Alhamdulillah :)

Penutup
Dahulu saya jarang menggunakan kata-kata ini karena saya menganggap bahwa orang-orang yang mengatakannya terkesan hanya karena ingin terlihat arab-araban aja. Terkesan pingin kelihatan beriman, tapi saat saya menelusuri artinya dan memaknainya dengan sedikit lebih dalam, kata-kata seperti thanks, hello, goodbye itu bukan hanya sekedar diterjemahkan ke dalam arab oleh mereka tetapi mereka memang menggantinya dengan hal yang berbeda. Dan saya mengakui bahwa menjawab sesuatu sesuai budaya islam, seperti di atas, memang memiliki makna yang lebih baik dibandingkan sekedar kata thanks, hello atau goodbye.
Alasannya cuma satu, doa. Islam mengajarkan untuk berdoalah sepanjang waktu, mohon pada Allah, kebaikan bagi yang memberi hadiah, perlindungan bagi saudara yang berpergian, dan kedamaian,keselamatan, berkah untuk setiap muslim yang kita jumpai. Doa yang kita panjatkan adalah bukti nyata kita mencintai saudara kita sesama muslim itu. Makanya kita selalu mendoakan mereka.
Saya jadi sadar bahwa budaya bahasa arab yang diucapkan banyak orang  bukan untuk arab-araban bukan juga untuk nunjukin iman, tapi menunjukan kecintaan dengan kandungan makna yang mereka ucapkan. kalimat yang memang lebih baik dan lebih patut dibudayakan.
Jadi mari budayakan kata-kata ini, mari budayakan sunnah islam untuk kegiatan sehari-hari. :)

Ceramah Ramadhan: Lelaki Penduduk Surga

"Masuklah kalian ke dalam Surga, tidak ada ketakutan bagi kalian dan tidak akan ada kesedihan" QS Al-A’raaf: 49.

Saat tengah berlangsung Taklim Rasulullah SAW, selepas shalat Ashar di Masjid Madinah. Tiba-tiba Nabi SAW berkata, "Akan datang seorang lelaki penduduk Surga".

Semua mata sahabat melihat ke pintu masjid. Maka masuklah seorang laki-laki, nampaknya ia baru selesai berwudhu, dia usap air yang membasahi jenggotnya kemudian dipercikkan ke belakang. Lalu laki-laki itu shalat sunnat dua rakaat, kemudian ikut bergabung mendengarkan taklim tersebut.

Esok harinya pada jam yang sama, taklim rutin berjalan kembali. Tiba-tiba Nabi SAW berkata pula, "Akan datang seorang lelaki dari pendduduk Surga".

Semua orangpun menoleh, ternyata dia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah SAW kemarin.

Adalah putra Umar bin Khattab, yang bernama Abdullah, merasa penasaran mendengar ungkapan Nabi SAW tersebut dua hari berturut-turut. Apa rahasia ibadah orang ini?, hingga diberi predikat sebagai "lelaki penduduk Surga".

Selesai shalat Isya, maka Abdullah pun mengikuti laki-laki tersebut dari belakang. Merasa ada orang berjalan di belakangnya, lelaki itupun menoleh, "Ada apa ya Abdullah?", sapa laki-laki itu.

"Bolehkah saya menumpang menginap tiga malam ini, saya sedang kurang enak di rumah," ujar Abdullah.

"Boleh, silakan," ujar laki-laki itu.

Setiap tengah malam menjelang subuh, Abdullah bin Umar bangun, mencoba mengintip ibadah laki-laki ini. Mungkin dia punya kelebihan ibadah dan rajin shalat malam.

Akan tetapi yang dia lihat, hanyalah sebagaimana kebiasaan sahabat secara umum, beribadah menjelang Subuh saja. Selama tiga malam berturut-turut seperti itu.

Merasa sudah cukup, Abdullahpun pamit dan berterima kasih kepada tuan rumah. Namun sebelum pergi Abdullah menyempatkan diri bertanya.

"Aku mendengar Rasulullah saw berkata bahwa engkau adalah lelaki dari penduduk Surga. Tapi setelah saya perhatikan, ternyata ibadah engkau biasa-biasa saja. Apakah ada sesuatu yang engkau sembunyikan?," tanya Abdullah.

"Iya, seperti yang engkau lihat," ujar lelaki itu.

"Baiklah, kalau begitu saya pamit dan terimakasih atas tumpangan menginapnya," kata Abdullah sambil berlalu.

Setelah agak jauh, tiba-tiba lelaki itu memanggil, "Ya Abdullah, ke sini".
Abdullahpun datang menghampiri, "Ada apa?".

"Kalaupun ada suatu rahasia yang saya lakukan adalah: Setiap malam sebelum tidur saya menghilangkan semua rasa iri terhadap semua saudara-saudara saya dan saya memaafkan mereka," ujar laki-laki itu.

"Baiklah, terimakasih," ucap Abdullah kemudian pergi.

Ternyata dengan membersihkan penyakit hati, berupa iri hati dan menjadi pemaaf sepanjang hidupnya, menyebabkan lelaki itu disebut Nabi SAW sebagai penduduk Surga.

Pemaaf dan tidak hasad, iri hati adalah sikap seorang yang bertaqwa. Nan tengah kita tempa di dalam bulan Ramadhan ini. Insya Allah.

Kalau ingin untaian melati
Boleh petik di dekat saga
Kalau rajin bersihkan hati
Boleh jadi penghuni surga
.


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

Tausiyah Ramadhan: Kasih Sayang

"Allah swt melaknat orang yang menyiksa dan mengurung hewan"- Hadits Nabi saw.

Dikisahkan,seorang ibu yang tengah duduk memangku kedua anaknya yang masih balita. Seseorang kebetulan lewat merasa iba dan memberikan tiga butir kurma padanya. Lalu sang ibu memberikan satu kurma untuk anaknya yang besar, kemudian satu kurma lagi diberikan kepada anak yang kecil. Lalu kurma ketiga akan dimakan oleh si ibu. Namun tiba-tiba putranya yang besar meminta kurma itu, karena kurmanya tadi sudah habis. Si ibupun tidak jadi memakannya dan menyerahkan kurma itu kepada si buah hati.

Rasulullah saw mengetahui kejadian itu, beliau ber kata: "Si Ibu itu masuk syurga, karena memberikan kasih sayang kepada anaknya".

Kasih sayang merupakan sifat dasar manusia, bukankah manusia terlahir diawali dari hubungan kasih sayang antara dua makhluk laki-laki dan perempuan. Namun, bisa saja satu lingkungan buruk kemudian mengubah perilaku seseorang, sehingga ia menjadi kasar, bahkan besifat kejam kepada siapapun juga.

Suatu ketika Rasulullah saw didatangi oleh cucu-cucu beliau Hasan dan Husain yang habis bermain di pasir. Kebetulan seorang Arab Badui bernama Aqra bin Habis, menyaksikan peristiwa itu dan berkomentar, "Saya punya cucu sepuluh orang, tapi saya tidak pernah menciumi mereka".

Mendengar ucapan orang itu Rasulullah saw marah dan berkata:"Aku tidak sanggup menumbuhkan kasih sayang di hatimu, bagaimana jika Allah swt mencabutnya. Siapa yang tidak mengasihi yang di bumi, tidak akan dikasihi oleh yang di langit".

Rasulullah saw dikenal bersifat penyayang kepada makhluk Allah swt, apalagi terhadap keluarga sendiri.

Simaklah bagaimana beliau memanggil istirinya Aisyah dengan sebutan humaira (yang kemerahan), panggilan mesra yang menyenangkan hati sang isteri. Bahkan Rasulullah saw pernah sujud lama sekali, sehingga sahabat mengira sedang turun wahyu. Namun rupanya sang cucu menaiki punggungnya, dan beliau tidak ingin menganggu keinginan cucu tercinta tersebut.

Rasulullah saw pernah menangis saat putranya Ibrahim wafat, sehingga Abdurrahman bin Auf bertanya, mengapa beliau saw menangis. "Ini adalah tangisan kasih sayang wahai Ibn Auf"

Rasul melanjutkan pembicaraannya: "Sungguh mata ini berlinang, hati ini sedih, namun kami tidak mengucapkan kata-kata kecuali yang diridhai oleh Allah. Sungguh kami sangat sedih berpisah dengan engkau wahai Ibrāhīm.”

Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk berkasih sayang sesama orang beriman. Kita rasakan bagaimana perihnya lapar saat menjelang berbuka, namun ingatlah bahwa kaum fakir miskin hampir setiap hari telah merasakannya.Empati ini tentu akan mengetuk sanubari kita untuk saling berbagi.

Hiasilah rumahmu dengan melati
Hidangkan di meja si lapis legit
Kasihilah makhluk yang ada di bumi
Engkauakan dikasihi Yang di Langit


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

Obrolan Ramadhan & Buka Puasa Bersama HIMATIKA

Buka Puasa Bersama HIMATIKA

Gramatika Ramadhan



Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Ada yang sangat menarik dari setiap akhir ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Ayat 183-187 surah Albaqarah diakhiri dengan fi'il Mudhari' (present dan future tense). Misalnya, ayat 183 yang diakhiri dengan la'allakum tattaqun, lalu in kuntum ta'lamun (184), la'allakum tasykurun (185), la'allahum yarsyudun (186), danla'allahum yattaqun (187).

Menurut gramatika bahasa Arab, akhir ayat-ayat tersebut mengandung arti bahwa puasa itu harus berwawasan masa kini dan mendatang. Ketakwaan itu mengawali, menyertai, mengakhiri, sekaligus menindaklanjuti Ramadhan.

Kecuali ayat 184, ayat-ayat lainnya dirangkai dengan kata la'alla yang menunjukkan arti harapan (tarajji). Artinya, Ramadhan harus menjadi bulan penuh harapan menuju perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan bermakna.

Pertama, harapan menjadi orang bertakwa (la'allakum tattaqun). Dalam menafsirkan ayat ini, sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa 'mudah-mudahan kalian semua dapat menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan.' Karena orang yang berpuasa itu mestinya antimaksiat. Makan dan minum saja tidak mau (di siang hari), apalagi maksiat?

Kedua, harapan menjadi orang yang berilmu (in kuntum ta'lamun). Ilmu harus menjadi dasar bagi kita dalam menggali makna dan rahasia puasa. Sebaliknya, puasa hendaknya mengantarkan kita untuk selalu menggali dan mengembangkan ilmu. Ilmu dan takwa menjadi 'identitas' Muslim.

Ketiga, harapan menjadi orang yang pandai bersyukur (la'allakum tasykurun). Bersyukur merupakan nilai positif dan konstruktif bagi orang yang berpuasa, karena ketika merasa letih, lapar, haus, dan dahaga, lalu pada saat berbuka dapat menikmati apa yang menjadi hak mulut dan perutnya, rasa gembira itu terekspresikan luar biasa indah. "Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya di akhirat kelak." (HR Thabrani).

Keempat, harapan menjadi orang yang berada dalam kebenaran (la'allahum yarsyudun). Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan prasyarat yang mengantarkan seseorang itu memperoleh jalan kebenaran dalam menjalani kehidupan ini.

Harapan itu harus dipenuhi dengan ketaatan dan kesungguhan dalam berdoa, dengan sungguh-sungguh meminta kepada Allah dan bukan pada yang lain.

Kelima, harapan menjadi orang yang bertakwa (la'allahum yattaqun).Menjadi orang yang bertakwa harus tahu diri, tahu batas, dan tahu yang pantas. Tahu diri artinya bisa mengendalikan hawa nafsu, tahu batas berarti mengetahui larangan-larangan Allah, dan tahu yang pantas artinya berusaha untuk menampilkan performa diri yang terbaik sesuai dengan batas kemampuannya.

Dengan memahami gramatika Ramadhan ini, kita perlu memaksimalkan harapan-harapan baik kita dengan membuat perencanaan dan target yang jelas sehingga Ramadhan kali ini, membuahkan transformasi dan spiritualisasi diri ke arah peningkatan iman dan takwa yang bermakna. Semoga.

*ROL

RAHASIA PUASA

submitted by  : Drs. H. Ahmad Yani
sumber  : -
Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan
yang mulia merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita.
Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak
keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia
maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk
membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting
dari ibadah Ramadhan.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam
mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk
selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

1. Menguatkan Jiwa

Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh
hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi
keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil
dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam
Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha
untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat
kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat
duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami
kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah
dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan
dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu
yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah
memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya
yang artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan
ilmu-Nya (QS 45:23).

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan
hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan
demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti
layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu
mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala doaanya
dikabulkan oleh Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Ada tiga golongan orang yang
tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka,
pemimpin yang adil dan doa orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

2. Mendidik Kemauan

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang
sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan
kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan
membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik,
meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu,
Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran.

Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang
muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat
seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan
atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga
akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun
penderitaan yang dialami sangat sulit.

3. Menyehatkan Badan

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan
benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan
jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi
juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia
yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka
berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus
diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk
sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam,
isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk
makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4. Mengenal Nilai Kenikmatan

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang
Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak
pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena
menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena
menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia
mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya
sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang
yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah
dari apa yang kita peroleh.

Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan
dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi
juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat
yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja
kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita
alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat
dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air.
Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk
menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita
selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak
mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah
memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat
itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi
rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala
Tuhanmu memaklumkan:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).

5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita
bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab
pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir
hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah
kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan
dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya
yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi,
seperti penderitaan saudara- saudara kita di Ambon atau Maluku,
Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di
berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak,
dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum
Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar
dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi
persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak
hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga
bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang
kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta,
kikir dan sebagainya.

Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan
mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).

SAMBUT DENGAN GEMBIRA

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi
kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut
kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira
sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan
ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah
Ramadhan itu berat.

Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita
tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan
Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik)
diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan
taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan
bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang
hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita
tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami
krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan
taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri- sendiri yang
akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru
menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.

Oleh karena itu, tepat apabila tema Ramadhan tahun ini adalah:
JALIN UKHUWAH, SATUKAN LANGKAH. Semoga hikmah
Ramadhan tahun ini dapat memperbaiki diri, keluarga, masyarakat,
bangsa dan negara kearah yang diridhai Allah Swt. Selamat
Menunaikan Ibadah Ramadhan 1434 H.